TUMBUH KEMBANG BUDAYA
Dalam kehidupan sehari-hari kita lebih memahami
budaya dari sudut sosiologi dan ilmu budaya, padahal ternyata ilmu budaya bisa
mempengaruhi terhadap perkembangan ilmu lainnya seperti ilmu Manajemen Sumber
Daya Manusia (SDM). Sehingga ada beberapa istilah lain dari istilah budaya
seperti budaya organisasi (organization culture) atau budaya kerja (work
culture) ataupun biasa lebih dikenal lebih spesifik lagi dengan istilah budaya
perusahaan (corporate culture).
Istilah budaya sering kali dihubungkan dengan aturan mengenai bagaimana seharusnya bersikap , beradaptasi serta berlaku reaktif terhadap aksi/pengaruh dari luar, sehingga terbentuklah
sebuah sistem nilai, kebiasaan (habits), citra, ethos yang terinternalisasikan
dalam kehidupannya sehingga mendorong adanya apresiasi terhadap diri dan kelompoknya.
Fungsi
pimpinan sebagai pembentuk Kultur diungkapkan oleh Peter, Dobin dan Johnson
(1996) bahwa :
Para pimpinan dalam kapasitasnya
menjalankan fungsinya sangat berperan penting dalam dua hal yaitu : a).
Mengkonsepsitualisasikan visi dan perubahan dan b). Memiliki pengetahuan,
keterampilan dan pemahaman untuk mengtransformasikan visi menjadi etos dan
kultur akademis kedalam aksi riil (Danim, Ibid., P.74).
Terbentuknya budaya bisa dicapai melalui proses tranformasi dan perubahan
tersebut sebagai metamorfosis kelompok menuju kultur yang ideal. Budaya itu sendiri
masuk dan terbentuk dalam pribadi seorang itu melalui adanya adaptasi dengan lingkungan, pembiasaan
tatanan yang sudah ada dalam etika ataupun dengan membawa sistem nilai sebelumnya yang kemudian masuk dan diterima
oleh kelompok yang akhirnya terbentuklah sebuah budaya dalam sebuah kelompok.
Pola pembiasaan dalam sebuah budaya sebagai
sebuah nilai yang diakuinya bisa membentuk sebuah pola prilaku dalam hal ini Ferdinand
Tonnies membagi kebiasaan kedalam beberapa pengertian antara
lain :
a) Kebiasaan sebagai suatu
kenyataan objektif sehari-hari yang merupakan sebuah kelajiman baik dalam sikap
maupun dalam penampilan sehari-hari. Seorang pendidik sebagai profesionalis
biasa berpenampilan rapi, berdasi dan berkemeja dan bersikap formal, sangat
lain dengan melihat penampilan dosen institut seni yang melawan patokan formal
yang berlaku didunia pendidikan dengan berpakaian kaos dan berambut panjang.
b) Kebiasaan sebagai Kaidah yang
diciptakan dirinya sendiri yaitu kebiasaan yang lahir dari diri pendidik itu
sendiri yang kemudian menjadi ciri khas yang membedakan dengan yang lainnya.
c) Kebiasaan sebagai perwujudan
kemauan untuk berbuat sesuatu yaitu kebiasaan yang lahir dari motivasi dan
inisatif yang mencerminkan adanya prestasi pribadi.( Soekanto, loc.cit, P. 174)
Pengertian budaya ditempat kerja lebih banyak berhubungan dengan kepribadian dan sikap dalam menyikapi
pekerjaannya (profesionality), rekan
kerjanya, kepemimpinan dan peningkatan karakter internal (maturity character)
terhadap lembaganya baik dilihat dari sudut psikologis maupun sudut
biologis seseorang. Dimana budaya secara aplikatif dapat dilihat ketika para
anggota kelompok
sudah mempraktikan seluruh nilai dan sistem yang berlaku dalam pribadinya
secara konsisten.
Nama : Vikie Albet
BalasHapusNIM : 4201014023
Tidak dipungkiri kebudayaan juga berpengaruh penting dalam kepribadian seseorang, tetapi bukan berarti setiap orang dengan kebudayaan yang sama memiliki kepribadian yang sama juga. Perkembangan dan pembentukan kepribadian pada masing-masing orang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan masyarakat dimana anak itu dibesarkan, terutama dalam lingkungan keluarga. Karena setiap kebudayaan mempunyai nilai yang harus dijunjung tinggi oleh manusia yang hidup dalam kebudayaan tersebut. Mentaati dan mematuhi nilai dalam kebudayaan itu menjadi kewajiban bagi setiap anggota yang ada dimasyarakat tersebut. Disamping itu harus mempunyai kepribadian yang selaras dengan kebudayaan yang berlaku dalam masyarakat. Dengan begitu, otomatis budaya pada diri kita akan tumbuh dengan sendirinya jika menerapkan prinsip itu. Dalam lingkungan keluarga, jika kita didik dengan keras, maka kita menjadi anak yang disiplin dan mandiri. Namun sebaliknya, kita menjadi manja, malas, selalu bergantung pada orang lain jika kita didik dengan lemah.
Beberapa aspek kebudayaan yang sangat mempengaruhi perkembangan dan pembentukan kepribadian antara lain:
• Nilai-nilai (Values)
Di dalam setiap kebudayaan terdapat nilai-nilai hidup yang dijunjung tinggi oleh manusia-manusia yang hidup dalam kebudayaan itu. Untuk dapat diterima sebagai anggota suatu masyarakat, kita harus memiliki kepribadian yang selaras dengan kebudayaan yang berlaku di masyarakat itu.
• Adat dan Tradisi.
Adat dan tradisi yang berlaku disuatu daerah, di samping menentukan nilai-nilai yang harus ditaati oleh anggota-anggotanya, juga menentukan pula cara-cara bertindak dan bertingkah laku yang akan berdampak pada kepribadian seseorang.
• Bahasa
Di samping faktor-faktor kebudayaan yang telah diuraikan di atas, bahasa merupakan salah satu faktor yang turut menentukan cirri-ciri khas dari suatu kebudayaan. Betapa erat hubungan bahasa dengan kepribadian manusia yang memiliki bahasa itu. Karena bahasa merupakan alat komunikasi dan alat berpikir yang dapat menunukkan bagaimana seseorang itu bersikap, bertindak dan bereaksi serta bergaul dengan orang lain.
• Milik Kebendaan (material possessions)
Semakin maju kebudayaan suatu masyarakat/bangsa, makin maju dan modern pula alat-alat yang dipergunakan bagi keperluan hidupnya. Hal itu semua sangat mempengaruhi kepribadian manusia yang memiliki kebudayaan itu.
• Pengetahuan dan keterampilan
Tinggi rendahnya pengetahuan dan keterampilan seseorang atau suatu masyarakat mencerminkan pula tinggi rendahnya kebudayaan masyarakat itu. Makin tinggi kebudayaan suatu masyarakat makin berkembang pula sikap hidup dan cara-cara kehidupannya.
Nah, budayakan tumbuh pertama kali pada diri kita sangat dipegaruhi oleh lingkungan dimana kita dibesarkan yang membutuhkan waktu cukup lama untuk menyesuaikan dan bersifat turun temurun. Suatu saat seiring berjalannya waktu, kita akan memasuki budaya baru, seperti budaya organisasi tempat kita berkerja. Tentunya ada perubahan budaya yang terjadi antara budaya kita dengan budaya yang ada di organisasi.
Pertanyaan saya, Apakah kita harus mengadopsi penuh budaya yang ada di organisasi tersebut walau bertentangan dengan karakteristik kita? dan Apakah jati diri kita (internalisasi) yang sebenarnya akan hilang begitu saja?
Nama : Cici Setyawati
BalasHapusNIM : 4201014027
Budaya adalah suatu cara hidup yg berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan juga diwariskan dari generasi ke generasi secara turun menurun. budaya juga merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia :)
tumbuhnya budaya dalam diri sendiri itu di pengaruhi bagaimana cara kita bersikap, beradaptasi dan pengaruh dari budaya itu sendiri.
Vikie : Jika menurut vikie budaya tersebut bertentangan dengan pribadi viki, dan apalagi hal itu tidak baik, katakan tidak untuk hal itu karena itu akan merusak budaya yg sudah ada di diri kita.
NAMA : PUTRI PERMATASARI
BalasHapusNIM : 4201014047
Tumbuhnya budaya dalam setiap manusia, manusia sebagai makhluk memiliki bekal untuk hidup, yang disebut budi atau akal dan budaya (culture).
Daya budi berupa cipta, rasa,dan karsa. Manusia dapat menciptakan budaya dalam sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau
sebuah realitas, dalam kelompok atau sebuah individu.
Vikie : tidak semua kebudayaan baik, kita juga perlu menyaring budaya, tentunya kebudayaan yang baik saja yang di terima.
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusBudaya adalah system makna yang dilakukan oleh orang atau sekelompok orang dalam suatu aktivitas/kegiatan secara terus menerus. Budaya Kerja adalah manajemen yang meliputi pengembangan, perencanaan, produksi, dan pelayanan suatu produk/jasa yang berkualitas, dalam arti optimal, ekonomis, dan memuaskan. Selanjutnya Budaya Kerja merupakan falsafah yang didasari oleh pandangan hidup sebagian nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan, dan kekuatan pendorong, membudayakan dalam kehidupan suatu kelompok masyarakat atau organisasi kemudian tercermin dari sikap menjadi perilaku, kepercayaan, cita-cita, pendapat, dan tindakan yang terwujud sebagai suatu kerja atau bekerja.
BalasHapusBudaya Kerja dalam suatu perusahaan dapat diamati, karena merupakan cirri yang membedakan dari perusahaan yang lain. Suatu organisasi yang merupakan kumpulan individu dengan berbagai watak, karakter, keahlian, pendidikan, serta kehidupan ekonomi perlu menyatukan diri dalam mencapai visi, misi, dan tujuan organisasi dengan membentuk budaya kerja. Dengan budaya kerja tersebut organisasi juga memiliki spesifikasi yang tidak dimiliki oleh perusahaan lain.
Lingkungan Kerja adalah lingkungan konkrit dan abstark yang meliputi atau mengelilingi kerja seseorang. Lingkungan kerja dapat tercipta dari pimpinan, atau karyawan itu sendiri. Lingkungan kerja juga dapat merupakan kondisi-kondisi materiil dan psikologis. Secara umum lingkungan kerja didalam organisasi merupakan lingkungan dimana para pegawai melaksanakan tugas dan pekerjaan sehari-hari. Dengan lingkungan kerja yang baik, para pegawai akan memperoleh kenyamanan dan kepuasan kerja, yang selanjutnya dapat meningkatkan produktivitas.
Lingkungan kerja konkrit meliputi ; peralatan produksi, penataan ruang, ventilasi, penerangan, kebersihan, kerapian, dan sebagainya. Suatu situasi yang dapat dilihat dan diamati. Sedangkan Lingkungan Kerja Abstrak meliputi ; keamanan kerja, hubungan antar karyawan, kesempatan karir, dan sebagainya. Sesuatu situasi yang lebih banyak dirasakan daripada dilihat/diamati.
Disiplin adalah prosedur yang mengoreksi atau menghukum bawahan karena melanggar prosedur. Disiplin merupakan pengendalian diri pegawai dan pelaksana yang teratur dan menunjukkan tingkat kesungguhan tim kerja dalam suatu organisasi. Tindakan disiplin yang efektif terpusat pada perilaku pegawai yang salah, bukan pada pegawai sebagai pribadi. Disiplin juga dapat berupa sikap kejiwaan dari seseorang atau sekelompok orang yang senantiasa berkehendak untuk mengikuti atau mematuhi segala aturan atau keputusan yang telah ditetapkan.
Hendaknya disiplin jangan dipandang sebagai “cambuk” yang dipegang para manajer untuk menghukum para bawahannya, melainkan sebagai alat pendukung mereka untuk memecahkan permasalahan ditempat kerja.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusNama : Nafisyatul Fitri
BalasHapusNim : 4201014021
pendapat saya tentang tumbuhnya budaya dalam diri atau lingkungan keluarga
tumbuhnya budaya di dalam diri seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya lingkungan seseorang tersebut. linkungan tersebut di bagi ataas dua yaitu lingkungan keluarga (rumah) dan lingkungan sekitar(pergaulan)lingkungan keluarga sebagian besar sangat mempengaruhi tumbuhnya budaya dalam diri seseorang karena dilingkungan keluarga dari situlah di tanam kan budaya budaya yang medasar dari sejak usia dini dan cendrung lebih melekat membentuk sebuah budaya seseorang.. kemudian lingkungan sekitar juga tidak kalah penting dalam membentuk sebuah budaya yang ada dalam diri seseorang.. karena tidak menutup kemungkinan budaya yang ditanamkan dilingkungan keluarga dapat berubah dengan kuatnya pengaruh dilingkungan sekitar (pergaulan)..